Senin, 13 Oktober 2008

Conscious Competence Learning Model (CCLM)

Salah satu model yang paling elegan guna menjelaskan dinamika pembelajaran individu adalah Conscious Competence Learning Matrix (CCLM). Model ini dikembangkan oleh Gordon Training International (GTI) pada sekitar tahun 1970-an. CCLM menjelaskan proses dan tahapan dari proses pembelajaran suatu kemampuan baru (prilaku, teknik atau yang lainnya). Model ini sering pula disebut sebagai ‘conscious competence learning model’ atau ‘conscious competence ladder’. Apapun sebutannya, CCLM merupakan penjelasan paling sederhana mengenai bagaimana individu belajar sekaligus menjelaskan bahwa pembelajaran pada individu terjadi dalam tahapan. Dalam setiap program pelatihan di PRIMASTUDY, kami selalu mengacu pada model pembelajaran ini.

CCLM dibagi menjadi empat tahapan; tahap 1 – ‘unconscious incompetence’; dan tahap 2 – ‘conscious incompetence’; tahap 3 - ‘consicous competence’ dan tahap 4 – ‘unconscious competence’. Umumnya individu memulai proses pembelajarannya pada tahap 1 – ‘unconscious incompetence’, dan berakhir pada tahap 4 – ‘unconscious competence’, setelah melalui tahap 2 – ‘conscious incompetence’ dan tahap 3 - ‘consicous competence’.

Kebanyakan pengajar dan pelatih berasumsi bahwa individu pembelajar telah berada di tahap 2, dan mereka memfokuskan usahanya untuk pencapaian tahap 3. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah individu masih berada di tahap 1. Pelatih berasumsi bahwa individu telah menyadari keberadaan kemampuan, relevansi, kekurangan serta keuntungan yang ditawarkan dari akuisisi suatu kemampuan baru. Sementara yang sebenarnya terjadi adalah kebalikannya, individu masih berada di tahap 1 - unconscious competence – tidak memiliki berbagai hal tersebut, sehingga tentu saja tidak akan mampu mencapai tahap conscious competence. Di lain pihak, individu pun merasa bahwa dirinya tidak memiliki kekurangan atau kebutuhan pada kemampuan baru yang ditawarkan. Hal ini merupakan alasan utama dari kegagalan yang sering terjadi pada program pelatihan dan pengajaran.

Di PRIMASTUDY, dalam program pelatihan diberikan, kami menggunakan CCLM guna meminimalkan resiko yang mungkin muncul, seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya .

Jika kesadaran akan kemampuan dan kekurangan relatif masih rendah atau bahkan tidak ada – misalnya individu berada pada kondisi unconscious incompetence – individu tidak mampu menyadari kebutuhan untuk belajar. Penting bagi pengajar untuk membangun kesadaran terkait kelemahan atau kebutuhan akan pelatihan yang ditawarkan (conscious incompetence) sebelum memberikan program pelatihan untuk memudahkan mengarahkan individu dari tahap 2 ke tahap 3.

Individu hanya merespon pada program pelatihan ketika telah menyadari kebutuhan akan program tersebut dan keuntungan personal yang dapat mereka peroleh.

Karakteristik masing-masing tahap

Perpindahan individu berawal dari kuadran 1 melalui kuadran 2, 3 dan berakhir di kuadran 4. Tidaklah mungkin melakukan lompatan tahapan yang dramatis, dari tingkat yang paling dasar menuju tingkat paling akhir. Namun demikian pada beberapa kemampuan, umumnya pada tingkat yang lanjut, sangat dimungkinkan bagi individu untuk mundur ke tahap sebelumnya, umumnya dari tahap 4 ke tahap 3, atau dari tahap 3 ke tahap 2, jika ia gagal melatih dan menguji kemampuan barunya. Individu yang mundur dari tahap 4, kembali ke tahap 3 dan 2, perlu mengembangkan kembali kemampuannya melalui tahap 3 guna mencapai tahap 4, unconscious competence. Pun demikian, pada beberapa jenis kemampuan, penguasaan hingga tahap 3, conscious competence dianggap telah cukup memadai.

Perkembangan dari tahap ke tahap sering kali diiringi dengan suatu sensasi pencerahan – ketika individu mendapati sensasi ‘aha’ – ketika individu merasa telah melakukan suatu lompatan besar.

Tentunya setiap individu memiliki preferensi. Setiap individu mendapati bahwa perkembangan ke tahap 3 atau tahap 4, lebih mudah pada beberapa kemampuan dibandingkan kemampuan lainnya. Beberapa individu ‘menolak’ berlanjut ke tahap 2, karena mereka menolak untuk menerima relevansi atau keuntungan dari suatu kemampuan. Tentu saja pada situasi ini individu tidak dapat berkembang ke tahap 3. Pelatih perlu menemukan strategi lain yang cocok untuk situasi ini.

Individu mengembangkan kompetensi hanya setelah mengenali relevansi dari ketidakmampuannya terkait suatu kemampuan.

Karakteristik dari masing-masing tahapan pembelajaran diberikan sebagai berikut:

Tahap 1: Unconscious incompetence

- Individu tidak menyadari kehadiran atau relevansi terkait suatu kemampuan

- Individu tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya memiliki kekurangan terkait suatu kemampuan

- Individu mungkin menolak relevansi atau kegunaan dari suatu kemampuan

- Individu harus terlebih dahulu sadar akan ketidakmampuannya sebelum pengembangan kemampuan baru dapat dimulai

- Tujuan dari individu dan pelatih adalah memindahkan individu ke tahap ‘conscious competence’, dan menunjukan kebutuhan dan manfaat dari kemampuan baru

Tahap 2: Consicous incompetence

- Individu sadar akan keberadaan dan relevansi dari suatu kemampuan

- Individu sadar akan kekurangannya terkait kemampuan baru dan idealnya akan mencoba melakukannya

- Individu menyadari dengan memahami kemampuan baru yang ditawarkan dapat meningkatkan efektifitasnya

- Idealnya individu memiliki pemahaman mengenai kekurangannya pada suatu kemampuan dan pada level mana kemampuan tersebut dibutuhkannya.

- Individu idealnya membuat komitmen untuk mempelajari dan melatih kemampuan barunya, dan berpindah ke tahap selanjutnya, ‘conscious competence’

Tahap 3: Conscious Competence

- Individu mampu melakukan kemampuan baru secara diniatkan

- Individu membutuhkan konsentrasi dan berpikir dalam melakukan suatu kemampuan

- Individu telah mampu melakukan suatu kemampuan tanpa dibantu

- Individu tidak akan mampu melakukan suatu kemampuan sebelum memikirkannya terlebih dahulu – kemampuan tersebut belum menjadi ‘kebiasaan baru’ atau dapat berlangsung secara otomatis

- Individu mampu melakukan suatu kemampuan dan mempertunjukannya pada individu lain, namun belum mampu mengajarkannya secara optimal

- Individu idealnya perlu terus melatih kemampuan barunya, dan melakukannya terus hingga ke tahap ‘unconscious competent’

- Penggunaan berkelanjutan merupakan cara yang paling efektif untuk berlanjut dari tahap 3 ke tahap 4

Tahap 4: Unconscious competence

- Kemampuan telah menjadi sangat terlatih hingga mampu berpenetrasi ke pikiran luar sadar dan menjadi kebiasaan baru

- Contoh yang awam terkait tahapan ini adalah kemampuan menyetir, aktifitas olahraga, mengetik, keterampilan tangan, mendengarkan dan komunikasi

- Sangat dimungkinkan untuk melakukan suatu kemampuan sementara melakukan aktifitas lain, misalnya merajut sambil bernyanyi dan mendengarkan musik, melakukan pengingatan yang dramatis (melalui program Prima Memory dan PRIMASTUDY) sementara terlibat dalam perbincangan

- Individu mampu mengajarkan kemampuannya pada individu lain, walaupun setelah periode waktu tertentu di tahap unconscious competent individu mengalami sedikit kesukaran untuk menjelaskan struktur dari kebiasaannya, karena kemampuan tersebut telah menjadi suatu yang instingtif

- Hal ini mengharuskan individu untuk selalu mengevaluasi kemampuannya menggunakan standar yang diperbaharui (umumnya lebih tinggi).

Selasa, 08 Juli 2008

Penggambaran Dikaji Dari Psikologi Ilmiah

Ketika psikologi pertama kali muncul sebagai ilmu eksperimental pada departemen filosofi di berbagai universitas Jerman akhir abad ke-19, dan setelahnya berkembang ke Amerika Serikat, peranan utama dari penggambaran (imagery) pada kehidupan mental tidak lagi dipertanyakan. Bagi pelopor eksperimen ini, seperti Wilhelm Wundt di Jerman dan William James di Amerika, gambar mental (mental images) (dikenal sebagai ide, mengikuti penggunaan yang telah lama diyakini di tradisi filosofi empirik) memegang peranan utama yang sama pada penjelasan mengenai kognisi dan demikian juga pada psikologi filosofis di masa sebelumnya. Edward B. Titchener, salah seorang mahasiswa Wundt yang menjadi figur utama pada psikologi Amerika, sangat tertarik pada penggambaran dan eksperimen dilakukan oleh salah seorang mahasiswanya, C. W. Perky. Sering kali hal ini dianggap bahwa tidak ada perbedaan kualitatif berdasar eksperimen antara gambar mental (mental images) dan produk mental terkait stimulus eksternal (percept), namun investigasi lebih lanjut telah memunculkan keraguan mengenai kesimpulan ini.

Perkembangan di dunia psikologi pada permulaan abad ke-20 mulai memunculkan keraguan pada konsensus yang telah lama diyakini. Sekelompok psikolog yang bekerja di Würzburg, Jerman, dipimpin oleh mahasiswa Wundt lainnya, Oswald Külpe, mengklaim telah menemukan bukti empirik bahwa pemikiran sadar tertentu bersifat imajinatif atau perseptual. Hasil temuan mereka mengundang pertanyaan dari Wundt, Titchener dan lainnya, dan tidak pernah ternyatakan secara definitif. Namun demikian pertentangan yang terjadi, yang sering disebut sebagai kontroversi pemikiran tak bergambar (imageless thought), memiliki efek yang mendalam pada perkembangan psikologi ilmiah (dan juga pada bidang filosofi). Kebanyakan psikolog menjadi, sebagai efeknya, sangat disilusinasi dengan keseluruhan konsep mengenai penggambaran mental (mental imagery), dan menghindari secara sungguh-sungguh mengenai topik tersebut atau pada beberapa kasus yang ekstrim menyangkal keberadaannya. Prilaku ini secara nyata turut mempengaruhi bidang keilmuan yang lain, termasuk filosofi. Walaupun studi secara psikologis terkait penggambaran mental muncul kembali dengan kehadiran paham kognitif pada era 1960-an dan 70-an, ketika berbagai metode eksperimen baru bermunculan, pandangan dan penyikapan terhadap penggambaran mental tidak dapat dipahami secara baik tanpa memperhatikan aspek historis, versi yang mana sangat beragam akurasinya, dan telah berlanjut pada psikologi konvensional.

Aspek Niatan dari Penggambaran

Pada pendekatan yang lebih lazim, dengan sedikit sekali pengecualian (misalnya Wright, 1983), hampir semua diskusi mengenai penggambaran menerima sepenuhnya bahwa penggambaran terkait tentang, dari atau diarahkan pada sesuatu (Harman, 1998). Gambar mental (mental image) selalu merupakan gambaran dari sesuatu atau yang lain (apakah nyata atau tidak), selalu merupakan persepsi (apakah benar atau tidak) mengenai sesuatu (Anscombe, 1965). Kelebihan terkait aspek niatan inilah yang membuat penggambaran mental dianggap sebagai jenis dari representasi mental yang memainkan fungsi penting dalam proses pemikiran.

Juga umum diterima bahwa penggambaran pada kebanyakan bagian, dikendalikan secara sadar. Walaupun juga benar bahwa gambar sering muncul di pikiran secara spontan dan kadang sulit untuk mengubah penggambaran yang tidak diinginkan, contohnya kenangan mengenai sesuatu yang menyeramkan yang sering kali muncul di pikiran, kebanyakan individu hampir di setiap waktu dapat secara bebas dan sadar memunculkan dan memanipulasi penggambaran dari apapun yang disukai (dengan tentunya sebelumnya telah mengetahui penggambaran dari hal tersebut).

Ada juga pengalaman serupa-perseptual, seperti gambar yang muncul setelah stimulus visual berlalu (afterimages), yang mana bukan merupakan contoh dari pengendalian langsung dan memang tidak secara langsung menyatakan secara niat, namun hal ini umumnya (setidaknya secara implisit) dipahami sebagai fenomena unik yang berbeda dari penggambaran mental yang lazim.

Referensi

Wright, E. (1983). Inspecting Images. Philosophy (58) 57-72.

Harman, G. (1998). Intentionality. In W. Bechtel & G. Graham (Eds.), A Companion to Cognitive Science (hal. 602-610). Oxford: Blackwell.